Welcome Bonus $100 dari ForexChief​

MTI Forums Lain-Lain Iklan Welcome Bonus $100 dari ForexChief​

Viewing 15 posts - 1,291 through 1,305 (of 1,310 total)
  • Author
    Posts
  • #9403
    senjanjani
    Participant

    Bear Dan Bull Dalam Pasar Forex

    Dalam trading Anda tentu sering mendengar istilah bear dan bull, juga bearish dan bullish. Mungkin ada trader yang mengenal kedua istilah tersebut tetapi belum mengerti arti yang sebenarnya. Artikel ini membahas asal kedua istilah tersebut dan artinya dalam trading.



    Asal Usul Istilah Bear Dan Bull
    Istilah bear berasal dari kata “bear” dalam bahasa Inggris yang artinya adalah beruang, sedang “bull” dalam bahasa Inggris berarti sapi jantan. Dalam pergerakan harga pasar, kedua istilah tersebut mengacu pada cara bedua jenis binatang tersebut menyerang lawan-lawannya. Beruang akan membanting lawannya kebawah sementara sapi jantan akan menanduk lawannya hingga terdorong ke atas.

    Kedua gerakan tersebut menyerupai turun naiknya pergerakan harga pasar dan juga cara para investor membuat keputusan untuk masuk pasar. Jika pergerakan harga pasar cenderung turun maka disebut bearish atau seperti seekor beruang yang sedang membanting lawan, dan ketika harga pasar sedang naik disebut dengan bullish atau seperti sapi jantan yang sedang menyerang.

    Pasar Bearish
    Pasar yang sedang bearish mencerminkan pesimisme pelaku pasar. Biasanya keadaan ini didahului oleh merosotnya harga dengan tajam, meski dalam kenyataannya akan terjadi koreksi harga yang naik tetapi arah pergerakan trend utama tetap bearish atau dorongan turunnya harga lebih kuat. Pada kondisi pasar saham yang bearish biasanya perekonomian sedang lemah dan tingkat pengangguran meningkat. Pengeluaran konsumen merosot dan aliran investasi baru berkurang atau terhenti.

    Pasar Bullish
    Berlawanan dengan kondisi bearish, pasar yang bullish mencerminkan optimisme pelaku pasar. Keadaan ini didahului oleh melambungnya harga dengan tajam, meski dalam kenyataannya akan terjadi koreksi harga yang turun tetapi arah pergerakan trend utama tetap bullish atau dorongan kenaikan harga lebih kuat. Pada kondisi pasar saham yang bullish biasanya perekonomian sedang bagus dan tingkat pengangguran berada pada level yang rendah. Pengeluaran konsumen naik dan aliran investasi baru meningkat oleh risk appetite, atau keberanian mengambil resiko dari investor.

    Garis Batas Bullish Dan Bearish
    Batas antara kondisi bullish dan bearish dalam pasar forex lazimnya ditunjukkan oleh kurva garis moving average 200 hari (SMA-200 day). Indikator ini menunjukkan trend jangka panjang. Jika harga bergerak di bawah SMA-200 day, maka berarti pasar cenderung bearish. Sebaliknya, bila harga memotong garis SMA-200 day dari bawah ke atas dan bergerak di atas kurva tersebut, maka trend cenderung bullish.

    Selain itu, perlu dicatat bahwa kondisi pasar bisa berubah-ubah. Sebagai contoh, saat ini EUR/USD bullish, tetapi beberapa jam dari sekarang bisa saja terjadi pembalikan dari mana pasangan mata uang ini akan terus bearish hingga beberapa hari mendatang. Karenanya, setelah memahami mengenai adanya kondisi pasar bullish dan bearish ini, ada baiknya pula Anda menyimak bahasan mengenai cara untuk mengetahui penerusan atau pembalikan trend.

    Sumber : seputarforex.com

    #9407
    rahmatrabani
    Participant

    Keuntungan Trading Forex Dengan Price Action

    Tulisan ini adalah pandangan dari Nial Fuller, seorang trader dan mentor trading forex dengan price action, tentang apa saja manfaat dan keuntungannya bila kita trading dengan metode price action.

    Pasar forex punya bahasa sendiri. Bahasa ini berakar dari pola bentuk pergerakan harga. Untuk memahami dan bisa ‘berbicara’ dalam bahasa pasar forex tersebut, kita harus belajar membaca perubahan pola gerak harga (price action) pada trading chart yang bersih dari indikator teknikal. Segala sesuatu yang terjadi pada pasar telah tercermin dalam pola pergerakan harga pada trading chart. Jadi jika kita trading berdasarkan interpretasi terhadap pola perubahan gerak harga pasar, maka dalam waktu yang bersamaan kita juga melakukan interpretasi terhadap berita ekonomi yang adalah juga variabel yang mempengaruhi pasar. Banyak trader yang telah membuat kesalahan dengan bersasumsi bahwa mereka akan bisa ‘membaca’ pergerakan harga pasar dengan efektif dan akurat bila bisa mencerna rilis berita fundamental ekonomi, menerapkan kombinasi indikator teknikal atau menggunakan software trading dan robot yang telah diprogram. Metode trading dengan price action tidak memerlukan software trading dan robot, kombinasi beberapa indikator teknikal yang rumit, ataupun interpretasi berita fundamental ekonomi. Berikut akan dijelaskan alasannya.

    Software trading dan robot

    Salah satu masalah pada semua robot dan software untuk trading adalah bahwa software tersebut tidak mempunyai karakter dan sifat manusia yang benar-benar bisa membuat pertimbangan untuk masuk atau keluar dari pasar. Hanya dengan identifikasi kondisi pasar yang bijak, rasional dan obyektif kita bisa mengantisipasi pergerakan harga pasar, dimana robot dan sotware tidak bisa melakukannya. Selain itu, apa yang disebutkan oleh sebagian para pembuat software trading bahwa produknya bisa mengatasi masalah emosi dan disiplin dalam trading adalah tidak benar. Jika kita kurang bisa disiplin dalam menjalankan rencana trading kita, maka kita tidak akan bisa menerapkan software trading yang sering juga membutuhkan pengaturan beberapa parameternya dengan disiplin. Faktor utama untuk mencapai hasil maksimal dalam trading tetap ada pada diri kita sendiri dan kemampuan kita dalam melakukan analisa pasar. Disiplin, teratur dan tidak emosional sewaktu trading adalah mutlak dibutuhkan.

    Kombinasi beberapa indikator teknikal

    Indikator-indikator teknikal diturunkan dari perubahan pola gerak harga (price action), jadi mengapa kita tidak belajar membaca pola pergerakan harga? Dengan menerapkan beberapa indikator teknikal pada trading chart, maka kita jadi sulit mencermati setup price action yang terjadi dan rancu dalam menangkap gambaran riil dari pasar. Kombinasi indikator yang bisa berjalan baik pada kondisi pasar dan time frame tertentu belum tentu bisa bekerja pada kondisi dan time frame yang berbeda. Antara indikator yang satu dan lainnya seringkali menunjukkan sinyal trading (sinyal untuk buy atau sell) yang bertentangan atau konflik interpretasi. Selain itu indikator teknikal cenderung lambat (lagging) dalam memberikan prediksi karena dihitung setelah terjadinya perubahan harga pasar. Kombinasi indikator biasanya digunakan untuk saling mengkonfirmasi, misalnya indikator RSI atau stochastic tidak bisa mengindikasikan kondisi pasar trending dibanding dengan indikator ADX, tetapi ADX cenderung lambat dalam antisipasinya. Dengan metode price action tidak akan terjadi konflik interpretasi seperti diatas karena memang tidak bergantung pada banyak indikator teknikal dalam menganalisa pasar, dan hanya menggunakan indikator sederhana untuk menentukan momentum dalam membuka posisi trading, biasanya exponential moving average (ema).

    Interpretasi berita fundamental ekonomi

    Memang tidak ada salahnya untuk berlangganan situs berita yang paling cepat dalam memberikan informasi terkini, terutama untuk rilis berita fundamental sesuai kalender ekonomi. Masalahnya pergerakan harga pasar sangat banyak ditentukan oleh emosi dan feeling para pelaku pasar tentang apa yang paling mungkin terjadi berdasarkan ekspektasi mereka, tidak sepenuhnya berdasarkan logika. Mereka trading berdasarkan ekspektasi bagaimana berita tersebut akan mempengaruhi pasar. Ketika berita yang sebenarnya telah dirilis, ekspektasinya bisa saja berubah. Oleh karena itu sering pergerakan harga pasar berlawanan dengan yang seharusnya terjadi setelah berita dirilis. Jadi kita tidak bisa selalu berasumsi bahwa jika hasil rilis berita lebih baik dari sebelumnya atau lebih baik dari prediksi (forecast) maka secara logika harga akan naik dan sebaliknya. Yang jelas semua faktor yang mungkin tidak kita ketahui telah tercermin pada pergerakan harga saat berita tersebut dirilis. Setup price action yang terjadi pada trading chart adalah refleksi dari perubahan variabel yang menggerakkan pasar termasuk rilis berita fundamental.

    Trading dengan metode price action

    Dari uraian diatas bisa disimpulkan bahwa trading forex dengan metode price action tidak diperlukan robot atau software trading, tidak dibutuhkan kombinasi beberapa indikator teknikal, dan tidak diharuskan analisa mendetail pada berita fundamental yang akan dirilis. Jika Anda ingin trading dengan price action, bersihkan trading chart Anda dari indikator teknikal yang rumit karena indikator diturunkan dari perubahan gerak harga. Hindari melakukan analisa yang berlebihan terhadap rilis berita fundamental. Pelajari konsep dasar price action yang sederhana, efektif dan akurat.

    Welcome Bonus $500
    Facebook ForexChief Indonesia
    Twitter ForexChief Indonesia

     

    #9409
    senjanjani
    Participant

    Banyak trader yang menganggap price action adalah sebuah sistem trading yang kaku dan harus dijalankan sesuai dengan aturan-aturan tertentu. Perlu Anda ingat, price action bukanlah sebuah sistem trading yang menerapkan banyak indikator teknikal, tetapi lebih cenderung ke discretionary trading. Artinya, menggunakan price action lebih didasarkan pada pengalaman. Sejauh ini belum ada software trading yang diprogram berdasarkan price action. Dalam mengamati price action, tidak diperlukan perhitungan seperti saat menggunakan indikator teknikal. Trader hanya perlu mengamati pergerakan pasar yang berubah sesuai dengan sentimen para pelaku pasar. Sebagian besar trader profesional menggunakan cara discretionary trading, yang tentunya tidak lepas dari pengamatan terhadap price action.

    #9415
    senjanjani
    Participant

    Profit Terus? (Nggak Selalu) Bagus!

    Anda profit terus menerus selama seminggu yang lalu? Atau malahan selama sebulan ini? Wah, oke deh… saya ucapkan: Selamat! Eh, tapi… ada tambahan lagi nih… Sebaiknya anda hati-hati! Jangan sampai “koleksi posisi ijo” anda membuat anda menjadi terlalu percaya diri (dan menyombongkan diri).

    Serius lho, “penyakit” trader yang paling umum adalah over self confidence plus sombong itu tadi. Saya pernah mendengar keluhan dari temen yang sedang belajar ber-trading ria dan mencoba berinteraksi dengan temen-temen trader lain di sebuah forum. Intinya, dia menyatakan rasa sebalnya, gara-gara dia merasa sebagian besar trader itu sombong.


    Mm… yah, saya cuma bisa bilang… Nggak semua trader sombong kok. Tapi iya sih.., sebagian besar memang seperti itu. Nah tuh… Jangan-jangan anda termasuk yang sebagian besar itu yah? Hayoo! By the way, bukannya saya cerewet pada sifat orang sih… Lah, sebenernya saya nggak terlalu peduli pada kesombongan orang lain kok. Hanya saja, karena dalam trading, faktor psikologis terbukti sangat berpengaruh pada keputusan anda dalam ber-trading, maka saya menyarankan anda untuk sebisa mungkin menghindari kesombongan ini.

    Lupakan “Koleksi Posisi Ijo” Anda
    Salah satu cara mengurangi kesombongan adalah dengan “melupakan” deretan posisi anda yang profit itu. Kalau suatu saat kelak saya merasa sudah terlalu banyak koleksi posisi ijo, tanpa ada selang warna merah di catatan transaksi saya, biasanya saya akan “membersihkan” koleksi history trading tersebut dan mencoba untuk tidak terlalu berbangga diri dengan prestasi yang (kebetulan) bagus itu.

    Mungkin anda bertanya, “Bukannya kalau profit terus itu berarti sistem trading kita udah bagus?” Menurut saya, sistem trading yang baik seharusnya malah “memberi ruang” untuk sesekali adanya posisi yang loss.

    Bukankan kita sudah memperhitungkan adanya loss ini dalam trading plan? Mentor saya pernah bilang, kalau 80% saja dari posisi yang kita ambil mendatangkan profit, itu sudah bagus. Jika kita memakai rasio Risk/Reward pada 1:2 toh apabila kita mengalami 2 kali loss-pun akan tertutup dengan 1 kali profit, sehingga pertumbuhan modal kita setidaknya tidak negatif.

    Profit yang (kebetulan) kita peroleh secara terus menerus justru kemungkinan besar akan menimbulkan rasa terlalu percaya diri, yang menurut saya justru merupakan titik lemah seorang trader.

    Apalagi jika profit berurutan yang kita peroleh itu sebenernya termasuk juga dari posisi yang anda ambil dengan sedikit “menyimpang” dari trading system atau trading plan anda. Anda akan berpikir, “Ahh… ternyata menyimpang dikit dari sistem juga malah profit kok”. Nah, dengan kenangan manis terhadap penyimpangan itu, lain kali anda akan cenderung mengulangi penyimpangan itu kan!? Padahal kalau dilakukan berulangkali, itu justru bisa jadi awal tamatnya akun trading Anda.

    Down To Earth Aja
    Bukan berarti saya menyarankan anda untuk sengaja me-merah-kan posisi sih. Namun, kalau anda kebetulan mendapat hasil trading yang selalu profit secara terus menerus dan berurutan, anda sebaiknya tidak lantas menjadi percaya diri berlebihan, alias sombong. Percaya deh, meskipun percaya diri itu hal yang wajib bagi seorang trader, tapi percaya diri yang berlebihan biasanya akan membawa kepada hal yang buruk bagi seorang trader.

    Bagi saya, posisi merah justru menjadi semacam pengingat, bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk trading system dan hasil analisis kita. Sesekali loss bisa menjadi pengingat bagi kita untuk tetap down to the earth, menjaga kita untuk tetap mawas diri dan tidak over self confidence plus sombong. Lagi pula, taman nggak akan indah kalau nggak ada bunganya kan!? Jadi, merah sesekali, justru indah kok.

    Sumber : seputarforex.com

    #9416
    rahmatrabani
    Participant

    ”Black Swan”

    Terminologi “Black Swan” (Angsa Hitam) berasal dari abad ke-17, bermula dari asumsi masyarakat Eropa bahwa semua angsa berwarna putih, padahal sebenarnya ada angsa hitam yang hidup di alam liar. Dalam konteks ini, angsa hitam (Black Swan) sering dilihat sebagai simbol untuk sesuatu yang tidak terprediksi dan berdampak besar, sesuatu yang luar biasa di luar kendali, atau sesuatu yang semestinya eksis dalam anggapan umum.

    Di era modern, istilah ini dipopulerkan oleh Nassim Nicholas Taleb, seorang mantan trader Wall Street yang kemudian menjadi penulis dan profesor kenamaan di bidang keuangan, dalam buku berjudul “The Black Swan” yang diterbitkan tahun 2007.

    Menurut Taleb, aneka penemuan ilmiah dan peristiwa yang menjadi fenomena Black Swan terjadi dengan tidak diramalkan sebelumnya. Misalnya adalah kemunculan internet, komputer pribadi, Perang Dunia I, termasuk peristiwa 11 September 2001 yang menenggelamkan mata uang dollar dalam sekejap, serangan Amerika terhadap Irak yang melambungkan harga minyak, dan lain-lain. Dalam bukunya, Taleb juga menyampaikan sejumlah perspektif yang diperlukan pelaku pasar untuk mengantisipasi dan menanggapi peristiwa Black Swan.

    Buku Taleb yang memaparkan teori Black Swan ini kemudian masuk dalam jajaran best seller serta ditempatkan dalam daftar 12 buku paling berpengaruh pasca Perang Dunia II oleh The Sunday Times.

    7 Peristiwa Black Swan

    Meski buku The Black Swan baru dirilis tahun 2007, tetapi sebenarnya peristiwa-peristiwa yang tak terprediksi sekaligus menggemparkan dunia finansial telah terjadi berkali-kali sebelumnya. Bahkan setelah teori Taleb diketahui banyak orang pun, kejadian seperti itu tak terhindarkan. Berikut 7 peristiwa menggemparkan yang kerap disebut sebagai contoh Black Swan di pasar finansial.

    1. Krisis Finansial Asia (1997)

    Pemicu Krisis Finansial Asia adalah keputusan Thailand untuk melepas pegging (patokan) nilai tukar Bhat terhadap Dolar AS. Keputusan itu berdampak domino hingga terjadi devaluasi mata uang di seluruh Asia Tenggara dan Asia Timur. Sebagian besar mata uang Asia anjlok hingga 38% dan pasar saham dunia melorot hingga 60%.

    George Soros dituduh memicu krisis ini dengan melakukan shorting atas Baht dan memanen profit dari jatuhnya mata uang-mata uang Asia. Namun, ia berdalih bahwa dirinya tidak memicu krisis, walau tak menampik langsung kalau ia ada andil dalam gejolak yang terjadi.

    2. Pecahnya Dot Com Bubble (2000)

    Seiring dengan makin meluasnya penggunaan internet di seluruh dunia, bisnis-bisnis daring yang disebut juga “perusahaan Dot Com” mengalami peningkatan pesat. Harga sahamnya meroket, terlihat dari kenaikan indeks NASDAQ (indeks saham AS yang berfokus pada emiten sektor teknologi) dari 1,000 poin di tahun 1995 ke lebih dari 5,000 di tahun 2000.

    Saat NASDAQ tengah “nangkring” di puncak, mendadak sejumlah perusahaan mayor seperti Dell dan Cisco melakukan aksi jual atas saham-sahamnya, sehingga memicu panic selling. Akibatnya, dalam waktu kurang dari sebulan, nyaris satu triliun Dolar AS hangus dari pasar. Indeks komposit NASDAQ yang sempat naik 682% dari 751.49 pada Januari 1995 ke 5,132.52 pada Maret 2000, terjun bebas hingga 78% dan terdampar di 1114.11.

    Meski sejumlah perusahaan Dot Com dari masa itu masih sukses hingga kini, seperti Amazon, eBay, dan Netflix, tetapi tak sedikit perusahaan teknologi AS yang terlindas oleh insiden Black Swan ini.

    3. Bangkrutnya Lehman Brothers (2008)

    Sebelum peristiwa Black Swan ini terjadi di tahun 2008, Lehman Brothers termasuk salah satu perusahaan jasa keuangan kawakan dunia dan menempati posisi bank investasi terbesar keempat di Amerika Serikat. Namun, pada 15 September 2008, Lehman Brothers mendadak mendeklarasikan kebangkrutan. Saat itu, perusahaan ini memiliki aset senilai $639 milyar dan utang sebesar $619 milyar, sehingga menjadikannya deklarasi kebangkrutan terbesar dalam sejarah.

    Kebangkrutan Lehman Brothers sekaligus mengungkap kebobrokan praktek sertifikasi utang sektor properti dalam sistem finansial AS yang kemudian dikenal dengan istilah Krisis Subprime Mortgage. Akibatnya, kekhawatiran meluas ke seluruh dunia karena para investor khawatir lembaga-lembaga keuangan besar lainnya akan ikut tumbang.

    Dampak domino yang lebih besar dari peristiwa Black Swan ini berhasil terhindarkan, setelah pemerintah Amerika Serikat menyalurkan dana untuk mem-bail out perusahaan-perusahaan keuangan bermasalah yang berpusat di sana. Namun, pertolongan dari pemerintah AS ini sebenarnya dipandang negatif oleh masyarakatnya sendiri, karena menganggap bahwa dana pajak rakyat diberikan pada orang-orang kaya yang tidak berhak. Kejadian ini juga yang kemudian memunculkan julukan “too big to fail” untuk bank-bank investasi AS.

    4. Krisis Utang Yunani (2010)

    Pada tahun 2010, sementara pasar finansial global masih berjuang untuk pulih dari krisis sebelumnya, Yunani tiba-tiba mengumumkan bahwa mereka selama ini menyembunyikan angka defisit anggaran negara yang sesungguhnya. Keyakinan pasar langsung kolaps, hingga pada tahun 2012, Yunani mendeklarasikan pernyataan gagal bayar utang pemerintah terbesar dalam sejarah.

    Situasi terus memburuk hingga pada 30 Juni 2015, Yunani menjadi negara maju pertama yang gagal membayar cicilan utang pada International Monetary Fund (IMF). Pasar finansial beraksi spontan, sehingga berdampak pada anjloknya pasar saham dari Hong Kong hingga London. Peristiwa Black Swan ini menggarisbawahi fungsi Emas dan Obligasi Pemerintah AS sebagai safe haven, karena investor dan trader global langsung memburu kedua aset begitu kabar menyeruak.

    Meskipun gejolak di pasar finansial global yang ditimbulkan oleh Krisis Utang Yunani ini telah mereda, tetapi negara yang beribukota di Athena itu masih bergantung pada praktek “gali lubang, tutup lubang” untuk menangani keuangannya. Perekonomiannya mengalami resesi dan pengangguran merajalela. Hingga kini pun, trader yang memperdagangkan mata uang Euro di pasar forex masih sering berhati-hati jika terdapat kabar rapat renegosiasi utang Yunani dalam berita ekonomi.

    5. Bencana Nuklir Fukushima (2013)

    Posisi geografis Jepang menjadikannya sering mengalami gempa dan tsunami. Namun, gempa di tahun 2013 menjadi “istimewa” karena mengakibatkan kebocoran di instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima. Seketika, kejadian itu memunculkan trauma dunia akan insiden Chernobyl (1986) yang meluluhlantakkan satu kawasan di Eropa Timur dengan kontaminasi radiasi masih membekas hingga kini.

    Kita di Indonesia boleh jadi tak begitu terdampak oleh peristiwa Black Swan ini. Namun, NIKKEI 225 anjlok 14%, mencatatkan penurunan terburuk dalam 40 tahun. Di Amerika Serikat, Dow Jones juga melorot 1.15%.

    Dalam perkembangan selanjutnya, Jepang menonaktifkan sebagian besar instalasi nuklirnya untuk sementara. Meski demikian, kebocoran di Fukushima belum sepenuhnya tertanggulangi bahkan hingga tahun 2017.

    6. Pencabutan Pegging Franc Swiss (2015)

    Sebelum 2015, nilai tukar Franc Swiss di-pegging setara dengan 1.20 Franc per Euro. Namun, Swiss National Bank (SNB) selaku bank sentral Swiss mendadak mencabut pegging tersebut sekaligus menurunkan suku bunga depositnya, sehingga seketika menggemparkan dunia finansial.

    Segera setelah pengumuman SNB tersebar di media, Franc Swiss melesat 30% versus Euro dan melonjak 25% versus Dolar AS. Langkah tak terduga itu juga menghantam pasar saham Eropa, hingga indeks saham Swiss merosot 10 persen dalam waktu singkat.

    Dibanding peristiwa Black Swan sebelumnya, kebijakan SNB ini bisa dikatakan berdampak paling buruk bagi trader forex. Bukan hanya banyak trader yang langsung bangkrut karena “rem”-nya jebol, tak sedikit pula jumlah broker forex yang terpaksa gulung tikar (contoh: Alpari UK) atau menanggung hutang besar setelahnya (contoh: FXCM US).

    7. Keputusan Inggris Keluar Dari Uni Eropa Pada Referendum Brexit (2016)

    Sebelum hasil referendum Brexit diumumkan, konsensus analis menilai Inggris tidak siap untuk keluar dari Uni Eropa, dan masyarakat pun tentunya tak sebegitu “gila”-nya hingga memilih “Yes, Brexit”. Akan tetapi, realita berkata berbeda. Kubu Pro Brexit unggul dengan selisih tipis versus Kubu Pro Uni Eropa, sehingga seketika mengubur Pounds di level terendah dalam 31 tahun (sejak 1985) versus Dolar AS.

    Secara global, kepanikan pasca pengumuman hasil referendum tersebut menghapus sekitar $2 triliun dari pasar finansial dunia. Hingga kini, para pelaku pasar masih mengamati perkembangan peristiwa ini dengan hati-hati. Kelancaran negosiasi Brexit dengan Uni Eropa dan kesehatan ekonomi Inggris hingga tiba waktu “perceraian”-nya terus dipantau massa.

    Welcome Bonus $500
    Facebook ForexChief Indonesia
    Twitter ForexChief Indonesia

     

    #9419
    senjanjani
    Participant

    Sebagai trader di pasar forex, Anda boleh jadi pernah mendengar istilah Black Swan disebut-sebut dalam analisa atau berita dari media internasional. Apa itu Black Swan? Black Swan adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar dugaan dan menimbulkan kegemparan di pasar finansial. Berdasarkan teori, suatu peristiwa dapat disebut Black Swan, apabila memenuhi tiga syarat, yaitu (1) kemungkinan terjadinya rendah, (2) berdampak sangat besar di pasar finansial dunia, dan (3) setelah peristiwa terjadi kemudian banyak orang mulai menyadari bahwa hal itu seharusnya bisa diperkirakan.

    #9423
    senjanjani
    Participant

    Psikologi Trading: Hal Yang Harus Diyakini Trader Agar Sukses

    Banyak trader profesional memiliki satu pendapat yang sama: jika Anda tidak bisa mendapatkan keuntungan di pasar forex, maka kemungkinan besar itu bukan karena sistem trading Anda payah, melainkan karena adanya faktor lain seperti kondisi pasar, atau justru diri sendiri. Hal ini menggarisbawahi pentingnya psikologi trading dan penataan mental bagi trader agar sukses. Namun, seperti apa psikologi trading yang salah dan yang benar?

    Patrick Stockhausen, seorang trader dan trainer, juga menggunakan psikologi trading ini untuk sukses. Dahulu, ia dibesarkan di sebuah keluarga miskin dan drop out dari sekolah di usia 16 tahun. Namun, berkat pemahamannya mengenai psikologi trading, bisnis, dan manusia; ia berhasil mandiri secara finansial pada usia 30 tahun.

    Berbekal dari pengalamannya, ia membantu banyak trader dan investor lain untuk memperbaiki kinerja mereka dengan membentuk pola pikir (mindset) baru, melalui laman takingstock.biz. Ia pun pernah diwawancara oleh Justin Pugley untuk MahiFX, mengenai apa saja kekeliruan mayoritas trader dari segi psikologi trading, serta hal-hal apa saja yang seharusnya diyakini trader agar sukses. Berikut sekilas kutipannya.


    Kesalahan Trader Pemula Dari Aspek Psikologi Trading
    Justin Pugley: Bisakah Anda sampaikan mengenai beberapa kesulitan psikologis yang biasanya dihadapi trader pemula?

    Patrick Stockhausen: Masalahnya adalah mereka tidak mencintai trading dan investasi finansial, padahal ini merupakan salah satu karakter penting para trader sukses. Mayoritas trader sukses mencintai apa yang mereka lakukan (trading -red). Ini adalah permainan yang mereka suka memainkannya. Uang hanyalah suatu cara untuk “menjaga skor”.

    JP: Implikasinya jadi banyak trader baru masuk pasar untuk menghasilkan uang, dan itu masalahnya?

    PS: Kebanyakan orang masuk pasar dengan pola pikir konsumen. Dengan demikian, uang memiliki sebuah makna tertentu, seperti sepasang pakaian training, sewa rumah, keluar dari pekerjaan yang membosankan. Karenanya, uang itu bukan tentang seberapa baik mereka bertrading.

    Kemudian mereka belajar beberapa analisa teknikal, dan di sinilah dimana mereka mulai melakukan kesalahan. Mereka melihat suatu pola tertentu di pasar, lalu melihatnya seperti mesin slot (judi): ini sinyal saya, maka trading saya pasti sukses.

    Padahal, ada perbedaan antara mesin slot dan trading. Pada mesin slot, Anda masukkan uang dulu, lalu berharap pola “kemenangan” muncul. Dalam trading bukan begitu; pola muncul, kita buka posisi, lalu kita perkirakan akan menang.

    Namun demikian, trading berdasarkan analisa teknikal tidak didesain untuk memberitahu Anda mengenai apa yang akan terjadi setelahnya. Justru, itu didesain untuk bertaruh pada kemungkinan kemenangan Anda dalam serangkaian trading. Trader profesional menerima hasil yang acak dari setiap posisi trading.

    Meski demikian, pemula mementingkan setiap transaksi dan melampirkan makna di setiap posisi trading. Apabila ternyata gagal, mereka mulai menyebut diri sendiri sebagai pecundang atau mengatakan bahwa sistem mereka tidak berfungsi.

    Sumber : seputarforex.com

    #9424
    senjanjani
    Participant

    5 Keyakinan Penting Bagi Psikologi Trading
    JP: Jadi, perbedaan antara orang yang trading hanya demi uang dan orang yang trading karena menyukainya; adalah orang pertama lebih jangka pendek dalam pola pikirnya, sedangkan orang kedua mengambil perspektif jangka panjang dalam trading mereka?

    PS: Tepat sekali. Hal ini mengenai pencapaian kepuasan; semakin Anda menginginkan kepuasan instan, maka makin jangka pendek lah trading Anda. Jika Anda mampu menunda pemuasan keinginan, maka makin mungkin bagi Anda untuk mengakumulasi kekayaan dan “trading demi trading”.

    Banyak orang bertrading dengan keyakinan yang salah. Mereka tidak memahami 5 hal fundamental yang perlu mereka yakini agar sukses.

    Berikut ini lima keyakinan yang salah tersebut:

    1. Hasil dari setiap trading dan pergerakannya itu telah diketahui. Kita bisa memprediksi pasar.
    2. Anda perlu tahu apa yang akan terjadi, agar bisa menghasilkan uang secara konsisten dalam trading.
    3. Trading yang untung dan rugi terjadi dalam semacam urutan tertentu. Dengan kata lain, mereka tidak mengantisipasi sifat acak di pasar, dimana Anda bisa menemui keuntungan dan kerugian secara berurutan.
    4. Mereka berpikir, ketika sinyal entry muncul dari sistem trading mereka, maka pasti trading yang akan mereka lakukan itu bakal menghasilkan uang.
    5. Mereka berpikir, pola pasar itu konsisten dan handal. Padahal, agar hal itu terjadi, Anda harus memiliki tepat orang-orang yang sama, dalam kondisi persis serupa, melakukan hal-hal yang sama juga. Namun, meski besok akan muncul pola yang sama, (bisa jadi) salah satu pemain pasar besar yang dulu menjadikan pola itu berfungsi, hari ini tidak masuk kerja. Jadi, itu sebabnya pola-pola tidak selalu berfungsi secara konsisten. Memang ada pola-pola di pasar, tetapi mereka bukan aturan yang kaku.


    Itulah lima kesalahan umum yang menjegal kebanyakan trader. Kemudian, ini lima keyakinan yang harus dimiliki trader agar sukses:

    1. Pahami bahwa apa saja bisa terjadi di pasar dan pada setiap posisi trading yang diambil.
    2. Begitu Anda menyadari bahwa apa saja bisa terjadi, maka Anda akan berfokus pada apa yang akan terjadi pada serangkaian trading (bisa 20 kali trading, 30, atau lebih) dan berusaha mendapatkan keunggulan dari situ. Trader Richard Dennis misalnya, mulai trading hanya dengan $200 dan berakhir dengan uang $200 juta. Sistemnya hanya menghasilkan uang 35% dari semua posisi trading yang dibuat, tetapi ia punya mindset berdasar probabilitas. Sistem tradingnya mengandalkan segelintir kemenangan besar untuk mengkompensasi banyak kekalahan yang meski sering terjadi tetapi besarannya kecil.
    3. Sebuah keunggulan hanyalah tingginya probabilitas suatu hal terjadi dibanding hal lain. Jadi, Anda bisa saja kalah 65% dari semua trading yang dilakukan (seperti Richard Dennis), tetapi jika Anda lakukan Pyramid, maka kemenangan Anda masih akan menghasilkan banyak uang.
    4. Ada kemungkinan acak antara kemenangan dan kekalahan dalam setiap sistem trading.
    5. Setiap momen di pasar itu unik dan tidak akan terulang kembali.

    Selain itu, Anda juga harus bertanggung jawab atas hasil trading Anda sendiri.

    JP: Bertanggung jawab atas hasil trading itu seperti mengatakan Anda punya kekuatan untuk merubah hasil trading menjadi lebih baik?

    PS: Ya, memang Anda punya kekuatan untuk merubah lingkungan Anda.

    Namun, dalam trading, ketika Anda mengambil posisi trading dan itu menguntungkan, maka itu adalah karena para trader lain, seringkali trader institusional, masuk ke pasar dan menggerakkannya sesuai dengan perkiraan Anda. Dibutuhkan orang lain untuk menjadikan Anda pemenang. Jadi, dengan kata lain, ini tak ada hubungannya dengan Anda, melainkan tindakan orang lain. Pekerjaan Anda (sebagai trader) adalah mengenali peluang dimana orang lain akan masuk dan menjadikan Anda pemenang.

    Sumber : seputarforex.com

    #9428
    senjanjani
    Participant

    Kondisi Emosional Ideal Agar Trader Sukses
    JP: Jadi, pada dasarnya, kelima keyakinan itu adalah suatu cara untuk menyingkirkan ketergantungan emosional orang atas setiap posisi trading, dan menghindari hal-hal seperti mengabaikan Stop Loss, menggandakan posisi trading yang merugi, dan sejenisnya…?

    PS: Ya, tepat sekali. Ada serangkaian kejadian, yang menentukan apakah Anda akan menjadi trader sukses atau tidak, dan inilah dimana Anda akan berada: sukes berdasarkan hasil yang konsisten.

    Sukses bukan berdasarkan hasil dari satu kali trading saja, melainkan dari banyak trading. Misalnya seperti Richard Dennis, Anda harus berpikir dalam kerangka 100 kali trading, karena tak banyak diantaranya yang menang (hanya 35%). Sedangkan keputusan Anda (baik itu eksekusi yang bagus atau salah, terlambat buka posisi atau menahan posisi setelah kena Stop Loss, dan lainnya) didasarkan pada kondisi emosional Anda.

    JP: Bisakah Anda jelaskan sedikit mengenai kondisi emosional?

    PS: Ada empat ketakutan yang mengacaukan trading orang-orang:

    • Takut kalah.
    • Takut salah.
    • Takut ketinggalan.
    • Takut meninggalkan uang menganggur.

    Orang-orang lebih termotivasi untuk bertindak karena rasa takut daripada rasa rakus. Jadi, Anda melihat pasar bergerak lebih cepat saat menurun daripada saat naik, karena rasa takut itu.

    Contohnya, saat pasar bergerak naik, orang-orang seringkali skeptis dan tak memercayainya. Namun, ketika terus menerus naik, orang-orang menjadi khawatir kalau mereka akan ketinggalan profit, lalu melompat masuk.

    Anda bisa melihat emosi-emosi ini mengacaukan trader. Dan alasan Anda bisa mendapatkan emosi-emosi ini terletak pada apa yang menjadi fokus Anda dan bagaimana Anda menerjemahkan kejadian-kejadian, yang menentukan kondisi emosional dan aksi Anda.

    Sumber : seputarforex.com

    #9429
    rahmatrabani
    Participant

    Konsekuensi Belajar Trading Forex

    Adanya kesulitan-kesulitan yang ditemui selama belajar trading bisa jadi memunculkan sejumlah konsekuensi yang mau tak mau harus bisa Anda tangani, jika ingin bisa sukses dalam forex.

    1. Dikendalikan Emosi
    Banyak trader kesulitan mencapai keberhasilan, karena mudah dikuasai oleh emosi saat trading. Pasar forex yang likuid dan bisa diakses 24/5, dengan pergerakan harga yang selalu berfluktuasi secara real-time, membuat banyak trader pemula sering terbawa gejolak pasar. Mereka sering meninggalkan logika saat mengikuti naik turunnya harga.

    Jika Anda selalu membiarkan alam bawah sadar menguasai, maka secara otomatis Anda akan sering melakukan kesalahan. Alam bawah sadar akan dengan mudah menipu Anda untuk menghindari peluang, meski sebenarnya sudah banyak sinyal yang mengkonfirmasi. Sebaliknya, saat Anda dikuasai oleh keserakahan, Anda akan cenderung untuk open posisi meski kenyataannya tidak ada sinyal yang cukup valid untuk mengkonfirmasinya. Lantas bagaimana hasilnya? Yaah bisa jadi yang Anda dapatkan justru loss besar-besaran.

    Pada akhirnya, jika Anda mampu bertahan cukup lama di forex, Anda akan dituntut untuk menyesuaikan cara pikir Anda. Menghadapi pasar tidak bisa dilakukan dengan baik jika emosi Anda terlalu mendominasi. Ada baiknya rasa takut ataupun serakah dapat dikontrol dengan baik, sehingga tindakan Anda selama trading bisa tetap objektif. Jika Anda terbiasa melakukan setup emosi tersebut untuk kepentingan trading, maka bukan tidak mungkin Anda akan mampu menerapkan cara pikir yang sama di kehidupan sehari-hari.

    2. Kehilangan Uang
    Poin kedua ini bisa jadi merupakan konsekuensi yang menuntut Anda untuk bisa legowo menerima. Yapp, Anda harus siap kehilangan uang alias merugi. Bahkan ada yang mengatakan bahwa belajar forex belum lengkap bila belum pernah merugi. Ini karena kesuksesan dalam forex tak bisa diraih secara instan. Selain itu, seseorang seringkali baru bisa benar-benar belajar setelah mengalami kekalahan. Tapi, kalau baru belajar sudah rugi, lalu bagaimana bisa suksesnya? Kuncinya ada pada konsekuensi belajar trading forex ketiga di bawah ini.

    3. Keharusan Untuk Terus Belajar
    Apakah setelah selesai menempuh tahapan belajar forex, maka secara instan Anda bisa langsung panen profit? Tentu saja tidak. Faktanya, pasar terus berubah dari waktu ke waktu. Para trader profesional pun harus terus menerus belajar meskipun sudah menghasilkan jutaan Dolar. Dalam perjalanan Anda nantinya, akan selalu ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kekalahan maupun kesuksesan. Untuk membalas kekalahan itu, maka Anda harus belajar menghindari kesalahan yang sama. Sementara jika ingin mempertahankan hasil yang konsisten, Anda harus bisa menjaga “rahasia” keberhasilan serta meningkatkan performa trading sebaik mungkin.

    Terlepas dari apakah Anda suka atau tidak, trading forex memiliki hubungan langsung dengan pengetahuan dan emosi Anda sebagai trader. Jika ingin menghasilkan uang melalui trading forex secara konsisten, sudah semestinya Anda mengontrol kondisi mental dan pikiran Anda lebih dulu.

    Welcome Bonus $500
    Facebook ForexChief Indonesia
    Twitter ForexChief Indonesia

    #9432
    rahmatrabani
    Participant

    Apa yang dimaksud dengan harga BID/OFFER

    Mari perhatikan contoh mata uang EUR/USD berikut : 1.1810/1.1813,1.1810 adalah harga bid dan 1.1813 adalah harga offer bid berarti adalah harga dimana broker(pedagang besar) mau membeli mata uang kita offer berarti adalah harga dimana broker (pedagang besar) mau menjual mata uang kepada kita Jadi apabila anda memasang posisi buy, maka saat order buy tereksekusi yang dipakai adalah harga offer, Sedangkan saat memasang posisi sell, maka saat order sell tereksekusi yang dipakai adalah harga bid.

    Bagaimana cara mendapatkan keuntungan dalam bertrading

    Caranya yaitu dengan menganalisa pasangan mata uang mana yang akan naik ataupun turun, dan mengambil selisih dari perdagangan. Apabila anda yakin mata uang tersebut akan menguat (naik) segera lakukan posisi buy, kemudian tunggu harga naik, lakukan closed (sell) saat mata uang tersebut melebihi harga beli anda tadi. Apabila anda yakin mata uang tersebut akan melemah (turun) lakukan posisi sell, tunggu harga turun,lakukan closed (buy) saat mata uang tersebut dibawah harga jual anda tadi.
    Contohnya :

    Pembukaan Euro 1.1750 / 1.1753 , anda menganalisa bahwa euro akan naek menjadi posisi 1.1770/1.1767, maka bukalah posisi buy saat harga tersebut (maka anda membeli pada posisi 1.1753), dan saat posisi berubah menjadi 1.1770/1.1773 , lakukan closed posisi / menjual mata uang tersebut (pada posisi 1.1770)

    Perhatikan contoh diatas, harga offer dan harga bid, perhatikan pula selisih harga buy dan sellnya, dan kapan anda menggunakan harga offer dan kapan menggunakan harga bid

    Misalkan level platform forex yang kita pakai adalah 1:100 , maka cara menghitung

    profitnya adalah Profit = margin x ( selisih harga beli-jual / 100 ) contohnya selisih harga beli dan jual anda saat transaksi adalah 70 pips , dan margin yang dipakai (deposito) adalah $10 (untuk pembelian $1000) maka Profit = $10 x (70 / 100 ) = $7

    Apa itu market price,stop order dan limit price? Pada saat anda membuka posisi tentu anda akan menjumpai option untuk membeli/menjual secara limit price atau market price. Market Price adalah membeli/menjual dengan harga saat itu yang ada di pasar. Stop order adalah membeli/menjual apabila arah pasar sesuai yang anda mau, permisalan begini harga USD/JPY saat itu 108.72 dan anda merasa akan bergerak lebih tinggi, anda dapet menaruh stop order untuk membeli di 108.82, apabila ternyata harga tidak sampai ke 108.82 maka order anda tidak akan tereksekusi. Sedangkan Limit Price adalah anda menentukan sendiri kapan anda mau membeli/menjual pada tingkat harga berapa, atau dengan kata laen apabila tingkat yang anda minta tidak tersentuh maka harga tidak akan tereksekusi dan bisa di cancel kapan saja.

    Welcome Bonus $500
    Facebook ForexChief Indonesia
    Twitter ForexChief Indonesia

     

    #9434
    senjanjani
    Participant

    Berbeda dari kesulitan yang dihadapi ketika belajar Forex, konsekuensi yang harus dibayar hanya ada satu. Seorang trader dituntut untuk memiliki konsistensi ketika belajar transaksi. Tanpa adanya konsisten, maka mustahil bagi trader untuk memperoleh sebuah kesuksesan. Tindakan ini juga membutuhkan waktu belajar secara bertahap. Untuk memulainya, cobalah mengatur manajemen uang Anda dalam bertransaksi dan belajar dengan akun demo hingga berhasil mengatur konsisten dalam trading.

    #9436
    senjanjani
    Participant

    Pola Pikir Orang Kaya vs Orang Miskin: Investasi vs Konsumsi
    JP: Banyak trader yang sudah membaca setiap buku tentang trader, tapi belum menghasilkan uang. Apa yang salah?


    PS: Itu karena mereka tak memiliki mindset untuk mengembangkan kekayaan. Nilai-nilai Anda menentukan apa yang dihargai di dunia. Jadi, Anda harus mementingkan “menyimpan uang”, sedangkan kebanyakan orang tidak melakukannya. Anda juga harus menghargai investasi dan mengembangkan kekayaan, serta memiliki beberapa alasan untuk melakukannya. Semakin besar alasan, semakin baik.

    Kebanyakan orang mementingkan konsumsi atau gaya hidup. Begitu mendapatkan uang, mereka akan menghabiskannya untuk membeli apa saja yang menjadi alasan mereka mendapatkan uang itu.

    Sedangkan bagi seseorang yang mementingkan penciptaan dan pengembangan kekayaan; begitu mereka mendapatkan uang, maka mereka akan menghabiskannya untuk membeli aset.

    Orang miskin atau kelas menengah, kebanyakan diantaranya dibebani utang; mereka berpikir orang kaya menghabiskan banyak uang untuk menjadi kaya. Jadi, ketika melihat orang punya uang tetapi tak membelanjakannya, mereka berpikir dia pelit. Orang miskin dan kelas menengah justru membelanjakan uang demi agar merasa kaya.

    JP: Jadi, inilah bedanya antara orang yang menyukai trading, dengan yang hanya memandang trading sebagai suatu cara untuk menghasilkan uang agar bisa belanja lebih banyak lagi?

    PS: Ya, benar sekali. Hanya orang yang suka mengelola uang, memiliki aset, dan mencintai hitung-hitungan dalam melakukannya; yang berakhir kaya dan bebas secara finansial.



    JP: Masalahnya adalah pengembangan kekayaan dan simpanan dan investasi adalah topik yang tidak menarik bagi kebanyakan orang. Jadi, bagaimana Anda mengajak orang-orang untuk menghargai aktivitas-aktivitas ini?

    PS: Langkah pertama adalah menyadari apa yang Anda yakini. Orang meyakini banyak hal seperti “uang adalah akar semua kejahatan” atau bahwa “orang kaya pasti sudah melakukan sesuatu yang buruk atau tidak jujur untuk menghasilkan uang” dan lain sebagainya.

    Langkah kedua, tanyakan pada Anda sendiri mengenai keyakinan Anda, apakah itu benar atau tidak? Karena semua keyakinan bisa berguna atau tidak, tergantung konteksnya. Jadi, Anda perlu mengenai keyakinan apa yang mengekang Anda. Anda harus menyingkirkan keyakinan yang tidak mendukung dan menyukai hal yang mendukung saja.

    Jika Anda memiliki keyakinan negatif mengenai uang, lalu Anda trading itu berurusan dengan apa? Uang!

    Apabila Anda memiliki keyakinan seperti “uang adalah akar semua kejahatan” maka Anda menyiapkan diri untuk kalah. Otak Anda tak ingin Anda menjadi jahat, maka akan memandu Anda untuk membuat keputusan trading yang salah, sehingga Anda akan terus mengikuti keyakinan bahwa uang itu pada dasarnya kejahatan.

    Keyakinan menciptakan perilaku. Itulah mengapa, sangat penting untuk mengenalinya.

    Salah satu alasan mengapa para trader dan manajer Hedge Fund top memiliki psikolog sendiri adalah karena mereka mengenai kalau psikologi termasuk salah satu keunggulan paling powerful yang bisa mereka miliki dalam trading.

    Secara mental, melatih aturan sistem trading dalam pikiran Anda, berulang-ulang, adalah sangat penting dalam membantu mengkondisikan pola pikir.

    Sumber : seputarforex.com

    #9438
    senjanjani
    Participant

    Manakah Jenis Analisis Forex Terbaik?

    Selama ini, perdebatan yang akrab mengenai jenis analisis forex terbaik selalu berkutat di antara fundamental dan teknikal. Pendukung analisis fundamental berargumen pergerakan harga disebabkan oleh kondisi ekonomi. Sedangkan pendukung analisis teknikal menganggap keuntungan hanya bisa dicapai dengan pengamatan grafik harga saja. Namun tahukah Anda, sebenarnya ada satu lagi jenis analisis forex yang tak kalah penting, yakni analisis sentimen pasar? Untuk mengungkap perbedaannya dan menentukan mana analisis forex terbaik, mari kita pelajari dulu pengertian ketiga analisis tersebut.


    Mendefinisikan Perbedaan Jenis Analisis Forex
    Analisis Fundamental menelaah potensi pergerakan harga dari berbagai faktor yang bisa mempengaruhi naik turunnya nilai mata uang, seperti kebijakan bank sentral, serta beberapa rilis data ekonomi yang berkaitan dengan kondisi ekonomi suatu negara, contohnya GDP (Gross Domestic Product atau Produk Domestik Bruto), inflasi, pengangguran, dan lain sebagainya. Beberapa kejadian luar biasa seperti bencana alam dan pergolakan politik juga menjadi bagian dari faktor fundamental.

    Sebagai contoh, trader yang melakukan analisis fundamental terhadap EUR/USD akan mendasarkan pengamatannya pada kebijakan suku bunga ECB dan The Fed, juga rilis data ekonomi berdampak tinggi dari Zona Euro dan Amerika Serikat. Adanya event penting seperti pemilu atau bahkan konflik yang mengancam kestabilan AS dan Zona Euro, juga menjadi bahan pertimbangan penting dalam melakukan analisis fundamental terhadap EUR/USD.

    Di sisi lain, Analisis Teknikal mengamati pergerakan harga yang tampak pada grafik harga. Karena diterapkan dengan prinsip bahwa pergerakan harga selalu berulang, tujuan analisis ini adalah untuk mengenali pola pergerakan harga di masa lalu, sebagai basis perkiraan harga di masa mendatang dan untuk mencari momen Buy dan Sell yang ideal. Untuk menyempurnakan analisis pada grafik harga, trader biasanya menggunakan metode pengamatan tertentu, atau bahkan mengaplikasikan alat bantu berupa indikator teknikal.

    Sementara itu, Analisis Sentimen Pasar berurusan dengan konsensus para pelaku pasar yang memperkirakan arah pergerakan harga berdasarkan pertimbangan berbagai hal, termasuk di dalamnya adalah faktor fundamental dan teknikal. Tiga jenis sentimen pasar yang selama ini dikenal dalam analisis forex adalah Bullish, Bearish, dan Netral.

    • Bullish merupakan kecenderungan mayoritas pelaku pasar memperkirakan pergerakan harga akan naik.
    • Bearish merupakan kecenderungan mayoritas pelaku pasar memprediksi harga akan menurun.
    • Netral, artinya pergerakan harga diekspektasikan stabil atau flat (trader cenderung menghindari pasar karena kurangnya katalis atau tingginya unsur ketidakpastian, sehingga harga tertahan pada kisaran pergerakan terbatas).

    Mengumpulkan konsensus di pasar forex yang tidak terpusat jelas adalah suatu hal yang mustahil. Karena itu, sentimen pasar biasanya cuma ditafsirkan dengan analisis mendalam tentang situasi fundamental terkini, atau dengan melihat pola harga di chart. Ada alat bantu analisis sentimen pasar yang berupa rasio jual beli dari broker tertentu atau data Commitment of Trader dari CFTC. Namun tetap saja, alat bantu seperti itu tidak menggambarkan konsensus seluruh pelaku di pasar forex.

    Dari ulasan di atas, kesimpulannya: analisis fundamental mengamati data dan peristiwa yang bisa mempengaruhi pergerakan harga, teknikal berurusan dengan analisis harga di chart, sementara sentimen pasar mengukur konsensus para trader tentang kecenderungan mereka untuk melakukan buy, sell, atau justru tidak masuk pasar.

    Sumber : seputarforex.com

    #9442
    rahmatrabani
    Participant

    Likuiditas Dan Volatilitas Dalam Pasar Forex

    Seperti diketahui, pasar forex adalah yang paling likuid diantara jenis pasar-pasar lainnya seperti pasar saham, komoditi atau obligasi. Dalam pasar saham, kita tidak akan memperoleh harga buy sesuai yang kita kehendaki jika tidak ada pihak yang sell pada harga tersebut, atau kita mesti antri untuk mendapatkan harga buy sesuai dengan rencana trading kita. Namun, berapapun harga buy atau sell yang kita kehendaki di pasar forex pasti akan terjadi transaksi, baik dengan pending order maupun masuk pada harga pasar saat itu (market price). Inilah yang dimaksud dengan likuiditas, dan pasar forex adalah yang paling likuid.

    Namun demikian, tidak semua pasangan mata uang diperdagangkan dalam kondisi likuiditas tinggi. Pasangan EUR/USD jauh lebih likuid daripada pasangan EUR/TRY (Euro versus Lira Turki). Pasangan USD/JPY tentu lebih likuid dibandingkan pasangan USD/MXN (US dollar versus Peso Mexico) atau USD/IDR (US dollar versus Rupiah). Semua pasangan mata uang utama yang ditawarkan pada platform trading forex pada umumnya likuid.

    Ukuran likuiditas sebuah pasangan mata uang bisa dilihat dari besarnya spread yang dipatok oleh broker. Spread untuk EUR/USD biasanya 1 pip atau 2 pip, sedang spread EUR/TRY antara 16 sampai 20 pip, demikian juga spread USD/JPY umumnya 2 pip atau 3 pip, sedang USD/MXN 8 pip sampai 12 pip.

    Likuiditas pasangan mata uang di pasar forex juga ditentukan oleh besarnya volume perdagangan.
    Makin sedikit suatu pasangan mata uang diperdagangkan, maka makin kurang likuid pasangan mata uang tersebut. Beberapa pasangan cross mata uang utama yang jarang diperdagangkan juga kurang likuid hingga menyebabkan spread-nya relatif tinggi, semisal AUD/NZD dan GBP/CHF yang spread-nya antara 10 pip sampai 12 pip.

    Walau demikian, jika ingin melakukan transaksi buy atau sell pada pasangan mata uang tersebut, Anda pasti memperoleh order sesuai dengan harga yang Anda inginkan. Nilai transaksi total di pasar forex yang mencapai US$ 4 trilliun per hari adalah yang terbesar di dunia, dan ini memungkinkan Anda untuk masuk dan keluar pasar pada harga berapapun yang Anda kehendaki.

    Selain likuiditas, yang juga penting untuk diperhatikan adalah volatilitas. Setelah mendapatkan order dari transaksi yang telah Anda lakukan, Anda tentunya butuh volatilitas harga yang memadai dengan range trading yang wajar. Jika harga hanya bergerak ‘choppy’ (bolak-balik pada range yang sangat sempit) tentu Anda tidak bisa merealisasikan strategi trading sesuai dengan rencana.

    Tidak semua pasangan mata uang yang likuid di pasar forex akan selalu bergerak dengan volatilitas tinggi, demikian juga pasangan mata uang yang kurang likuid kadang-kadang bisa bergerak dengan volatilitas yang sangat tinggi. Sebagai contoh, USD/JPY adalah salah satu pasangan mata uang utama yang sangat likuid. Rata-rata volatilitas USD/JPY biasanya lebih rendah dibandingkan dengan GBP/USD atau EUR/USD. Secara sederhana, ukuran volatilitas dapat diketahui dari range hariannya.

    Perubahan volatilitas sebuah pasangan mata uang bisa terjadi karena sentimen pasar akibat berita tertentu, rilis berita fundamental penting atau ulah para spekulan yang masuk dalam jumlah besar pada saat volume perdagangan sedang tipis atau likuiditasnya sedang menurun. Untuk yang terakhir ini pengaruhnya hanya sementara karena pada dasarnya tidak ada trader yang bisa ‘menggoreng’ pasar forex seperti yang terjadi pada pasar saham, kecuali dengan dana sindikasi yang sangat besar.

    Likuiditas pasar forex yang paling tinggi terjadi pada saat overlap (pertemuan) sesi perdagangan pasar Asia, pasar London dan pasar New York, atau antara jam 08:00 GMT (jam 15:00 WIB) hingga jam 18:00 GMT (jam 01:00 WIB), sedang likuiditas yang relatif rendah terjadi pada sesi Asia dan menjelang penutupan pasar New York. Selain itu, pada saat hari-hari libur yang terjadi bersamaan (terutama menjelang hari Natal dan tahun baru) likuiditas dan volatilitas pasar forex akan sangat rendah. Dianjurkan untuk tidak masuk pasar pada hari-hari tersebut.

    Welcome Bonus $500
    Facebook ForexChief Indonesia
    Twitter ForexChief Indonesia

Viewing 15 posts - 1,291 through 1,305 (of 1,310 total)
  • You must be logged in to reply to this topic.